I STILL WANT YOU
.Oleh Di.
Di bawah langit biru itu, mereka berdiri terdiam. Saling menatap satu sama lain, mencoba membaca apa yang memenuhi isi kepala juga hati. Gadis bersurai legam panjang menundukkan wajahnya. Ia tak mampu lagi menahan degupan jantungnya yang serasa ingin berpindah tempat. Tembakan mata almond lelaki itu mampu membutakan pandangannya, meruntuhkan kekuatannya, meluluhkan perasaannya. Ia ingin mendekapkan tubuhnya dalam-dalam pada hangat mata itu.
"Selamat tinggal"
Bibir kecil, yang dihiasi warna merah muda, menuturkan kata yang membuat hatinya menjadi serpihan serpihan rasa sakit. Kepalan tangan itu terkatup kuat seakan siap meninju wajah dihadapannya sembari berteriak, jangan pergi.
"Selamat tinggal"
Air mata itu jatuh. Bodoh! Kenapa harus sekarang menangis. Gadis itu mengangguk. Keberaniannya masih ciut untuk kembali menatap mata almond itu. Beribu perasaan memuncak hingga ubun-ubun kepalanya. Banyak kata yang ingin ia sampaikan, namun gadis itu menjadi bisu.
Tak ada lagi yang perlu dikatakan. Angin membawa niatan itu pergi menjelajah langit yang tiada batas, hingga hilang dan tak lagi tertulis dan dikenang. Langkah itu berbalik. Memunggungi gadis itu dengan tubuhnya yang tinggi. Ia siap untuk pergi.
"Aku menyukaimu"
Tangan itu menahan sedikit ujung kemeja yang ada di hadapannya. Memintanya untuk tidak pergi. Tindakan bodoh yang sama sekali takkan merubah apapun terhadap perasaannya. Gadis itu sudah tak peduli. Menahan rasa itu selama tiga tahun bukanlah hal yang mudah. Ingin menyerah rasanya dia.
"Aku menyukaimu. Apapun yang kau lakukan dan apapun yang kau kenakan. Aku menyukaimu"
Laki-laki itu hanya diam. Menyiapkan telinga untuk mendengar pengakuan dari gadis di balik tubuhnya.
"Aku ingin menjadi milikmu. Memanggil namamu sepuas yang aku mau. Tersenyum dan menggenggam tanganmu setiap hari. Mendengar degup jantungmu dari dekat"
Rona merah memenuhi wajah gadis itu. Ia harus menahan malu. Keinginan memuncaknya untuk menyatakan cinta mengalahkan segalanya.
"Namun aku sudah menerima kenyataan untuk mengucapkan selamat tinggal. Kita akan pergi ke jalan masing-masing, bertemu orang baru dan saling melupakan. Dan aku yakin kau akan menemukan cinta yang membuatmu bahagia. Tapi aku ingin kau tau, sampai saat itu terjadi aku masih tetap menginginkanmu."
Gadis itu tak sanggup menahan kelemahannya. Airmatanya deras membasahi pipinya yang tersapu blush on tipis. Isakannya terdengar hingga ke telinga lelaki itu.
"Aku terlihat bodoh seperti ini di matamu. Aku menyatakan dan menunjukkan semuanya. Tadinya ini yang menjadi ketakutanku. Aku menyukaimu dan sampai kapan pun akan tetap selalu menginginkanmu."
Gadis itu melepas tangannya dari kemeja lelaki itu. Kini hatinya melepaskan cintanya. Membiarkan rasanya terpelatuk sakit yang membekas. Pergilah, kita berpisah.
"Selamat tinggal"
Suara berat itu mengatakannya sekali lagi, menyudahi segalanya. Laki-laki itu perlahan melangkahkan kakinya tanpa menoleh. Ia tak ingin menambah lubang pada hati yang telah ia hancurkan itu. Ia menyesal, menyakiti hati yang ternyata sangat mencintainya. Terselip sakit yang juga mendalam. Mata almond itu menyatakan perasaannya dengan airmata. Ia pergi, juga dengan perasaan sakit penuh rasa yang tak sempat ia ucapkan.
Komentar
Posting Komentar