Skenario Pencipta - 3 Tahun yang Sudah Berlalu

Hai! Udah lama nggak update blog dan nggak terasa pula waktu udah berlalu. Banyak banget hal yang gue lewati, banyak banget pelajaran yang gue dapat, banyak banget waktu yang sudah tersisih. Saking banyaknya hal-hal dan kenangan-kenangan yang mau gue tulis, dada rasanya kayak mau meledak. 

You know, it's like you keep a big secret that must to be told to everyone, but you can't! 

Menulis ini membawa gue ke beberapa kejadian yang terjadi di tahun-tahun terakhir. Gue yang hancur karena gagal dapat universitas impian, merasa jatuh sejatuh-jatuhnya ketika harus membuang mimpi gue untuk jadi seorang dokter gigi, merasa nggak berguna dan minder karena malu kuliah di univ swasta sedangkan teman-teman di univ negeri yang bergengsi (ya walaupun univ swasta gue juga bergengsi), hingga yang paling meluluh-lantahkan diri gue hingga menjadi serpihan-serpihan adalah kepergian Papa. Ya, lelaki hebat yang menjadi kekuatan gue pergi begitu aja di saat gue masih membutuhkan dia. Bahkan, dia pergi saat gue nggak ada di samping dia. Dia cuma izin ke gue untuk pergi melalui telepon dan itu dengan kalimat tersirat, "udah ya, De."

Ya, nggak adil emang. Gue nggak pernah berada dalam hubungan bernama pacaran, tapi seakan gue tau bagaimana rasanya diputusin, setelah dekat dan membangun hubungan selama bertahun-tahun, hanya lewat satu panggilan telepon.

But i know, it's not his mistake. It's a story.

Sudah 2 tahun dan tahun ini adalah tahun ke 3 kepergian Papa. Hidup masih berjalan seperti biasanya, hanya saja dalam perjalanannya kini banyak hal yang berubah. Kita harus beradaptasi, dan yaa in the end everything will gonna be fine!

Tapi Allah memang seadil itu. Allah sebaik itu. Gue yang jatuh, pelan-pelan mulai bangkit. Kepergian Papa di usia gue yang masih muda dan di kondisi gue yang waktu itu masih belum pulih dari kegagalan, membuat luka yang semakin lebar dan dalam. Namun, kini luka itu sudah pulih meski meninggalkan bekas yang tak akan bisa hilang. Allah mempertemukan gue dengan hal-hal yang gue sebut Skenario Pencipta. 

Pelan-pelan ketidakterimaan gue atas status kemahasiswaan gue di univ swasta ini mulai meluruh. Gue dipertemukan dengan teman-teman yang sayang sama gue, dosen-dosen yang keren dan luar biasa, kondisi belajar yang nyaman, dan ilmu yang bisa gue terima dan ikuti. Hingga akhirnya gue merasa nyaman dan malah menolak saat Mama nawarin untuk ikut SBMPTN lagi. Gue sudah jatuh cinta, nggak mau pindah, sampai di semester 6 ini gue berada di sini. Dan yang WOW-nya, gue adalah salah satu mahasiswa beruntung yang menjadi bagian dari Management Student of Excellence Class Program. Gue bertemu teman-teman dan senior yang benar-benar like my second family, dosen-dosen yang lebih keren, lingkungan yang mensupport gue untuk terus berkembang, dan terutama pengalaman MODAS yang hanya bisa dirasakan oleh anak-anak KU (Kelas Unggulan) ini. Membuat gue kini malah bersyukur telah ditempatkan di univ ini.

Kehancuran akan mimpi-mimpi gue pun mulai dibangun kembali. Sejak itu, gue sadar kalau gue sebenarnya nggak tau apa-apa. Mimpi gue jadi dokter gigi ternyata nggak sesuai dengan diri gue yang sangat mencintai kebebasan. Selama itu gue terus mencari mimpi yang lain. Menjadi manager, karyawan swasta, wirausaha, hingga jatuh pada penulis. Namun, kini semua jadi lebih spesifik. Semakin dewasa, gue semakin luas melihat dunia, melihat realita, mengukur kenyamanan, hingga sampai pada titik "gue cuma mau hidup nyaman dan tenang".

Sebenarnya gue merasa gue nggak sedewasa itu dalam berpikir. Gue masih merasa gue masih seorang bocah yang butuh ditunjuk dan diarahkan dalam menjalani hidup. Gue kadang merasa bodoh dan paling parah merasa nggak berguna di hidup ini karena yang ada dalam pikiran gue adalah 'orang-orang jauh lebih hebat dari gue dan nggak ada yang sebodoh gue'. 

Namun, belakangan gue mengerti, ditunjuk dan diarahkan bukan berarti kita bodoh atau tak mampu. Hanya saja itu adalah bagian dari belajar. Diarahkan bukan berarti kita diatur, melainkan kita yang dipandu dan diberikan gambaran. Setelahnya, itulah yang dinamakan hidup, kita memilih untuk menerima arahan itu atau sebaliknya, menolak dan mencari arah yang lain.

Gue memilih menerima arahan itu, arah yang ditunjukkan oleh Mama. Untuk pertama kalinya gue meng-iya-kan ucapan Mama yang menginginkan gue untuk menjadi seorang PNS dengan alasan satu dan lain hal, setelah selama bertahun-tahun gue menggeleng keras atau bahkan tak menggubris saat Mama menyinggung hal tentang PNS ini. Well, just for information, kedua orang tua gue adalah PNS dengan hidup yang bisa dibilang yaa cukup terjamin. Kita semua tau gimana terjaminnya hidup Pegawai Negeri Sipil, dan itu pula yang menjadi alasan PNS dielu-elukan oleh orang tua jaman sekarang, termasuk orang tua gue.

"Kalo bisa kamu jadi PNS, biar hidup kamu terjamin!"

Awalnya gue mencemooh anggapan itu. Menurut gue terjaminnya hidup seseorang tidaklah dari dia seorang PNS atau bukan. Meskipun gue setuju jaminan hidup bisa diukur dari pekerjaan seseorang, and that's the point! Banyak pekerjaan di luar sana yang lebih menjamin hidup sekalipun tanpa uang pensiun setelah tua nanti. But, that's not the exactly reason for me to refuse become a PNS. Simple, gue cuma nggak mau kerja kantoran pakai seragam. Ya, konyol dan bodoh.

Dan lebih konyolnya, saat ini gue tengah meminum ludah gue sendiri. Saat ini menjadi PNS adalah salah satu tujuan gue. Tes CPNS adalah salah satu agenda dan rencana gue setelah lulus kuliah, dan gue menjadi sangat berharap untuk hal yang selama ini selalu gue tolak. But once again, jadi PNS bukanlah cita-cita. Cita-cita gue tetap menjadi seorang penulis, lebih khusus jadi seorang novelis.

Dan balik lagi, kehancuran gue yang berkeping-keping karena kepergian Papa mulai kembali mengutuh. Allah menggantikan sosok laki-laki yang bisa membuat rumah terasa lebih aman dengan kehadiran Mas Marshal, suami dari Kakak kandung gue, Dita. Lebih dari itu, Allah juga menghadirkan Hyra, ponakan gue, yang bisa menjadi penghibur dan penyenang hati dalam keluarga. Ya, meskipun emang berbeda dari ketika Papa masih ada, tapi rumah tetap terasa hangat. Mama pun bangkit dan kembali menjalani hidup dengan baik, bahkan jauh lebih baik. Setelah kepergian Papa, ibadahnya semakin lebih baik. Mama pernah cerita, alasannya karena Mama nggak bisa lagi berbakti dan menjaga Papa selain lewat do'a. Romantis.

Meskipun ada celah dingin permanen yang tercipta dalam kehangatan, masih ada rasa sakit dan kesepian, but it's not a big matter. Bagaimanapun guci yang pecah, tetap meninggalkan bekas pecahannya sekalipun sudah diperbaiki sebaik apapun.

Sebenarnya masih banyak banget cerita yang mau gue tulis, tapi lagi-lagi, cerita selama 3 tahun membutuhkan waktu 3 tahun juga atau bahkan lebih untuk diceritakan kembali. Dan yang terpenting, saat ini dada gue sedikitnya bisa lebih lepas dan lega setelah menuangkan apa yang harus gue tuangkan.

Selama menulis ini, gue kembali mendapat pelajaran dan mengetahui satu hal; gue sudah melewati banyak hal yang berharga dalam hidup. Gue juga belajar untuk tidak menjadi egois dan arogan. Gue berusaha lebih terbuka dan kritis dalam hidup. Gue merasa menjadi manusia yang harus banget bersyukur atas kepulihan luka yang Allah berikan. Percayalah pada Illahi, maka semesta akan mendukung. Hidupku adalah cerita yang sudah dituliskan dalam Skenario Pencipta, yang kita sebut takdir.

But the most important point is in the end everything will gonna be fine!

Thank you Diani for still stay in this place called life. You are the best!!




Komentar

Postingan populer dari blog ini

I STILL WANT YOU

Semoga Kita Berjodoh

Dep