Pembunuh Waktu


Setiap cerita akan ada akhir
Setiap pertunjukan akan ada penutup
Setiap lukisan akan ada goresan penghabisan 

Namun, kali ini cerita, pertunjukan, dan lukisan itu bukanlah tentang hidupku -yang masih panjang dan mungkin akan penuh konflik berbelit- belum pantas untuk menyajikan epilog. 

Mereka tentang waktu

Perlahan, waktu yang kujajakan menyingkir. Sisanya terhembus oleh angin dan berlalu bagai kabut bertemu kehangatan. Saat ini, aku sedang berdiri di batas akhir waktu perjalanan yang sudah ku rencanakan sebelumnya. Namun, juga sekaligus sebagai titik awal bagiku untuk kembali mengatur waktu perjalanan selanjutnya. 

Ya, 

Cerita yang berakhir akan dimulai kembali dengan alur yang baru
Pertunjukkan yang ditutup akan dibuka kembali dengan pemain yang baru
Lukisan yang digores habis akan dibubuhkan kembali garis dan warna untuk objek yang baru. 

Aku sadar, saat membicarakan waktu, kita sepakat bahwa ia tak lekang, tak pupus, tak mati, tak memudar, tak bisa dipatenkan. Dan, waktu terus merangkak naik, memaksa kita untuk mengejarnya. Ia juga mengikat kita dengan kata yang berubah menjadi gambar, lalu membaur menjadi mimpi, hingga kemudian terlahir kembali sebagai ambisi yang membakar dada. 

Di sinilah aku berdiri dalam waktu. Pada tahapannya, mimpi hampir bereinkarnasi menjadi ambisi dan bersiap membakar dada dan mungkin sekujur tubuhku. Namun, hingga detik ini, ketika tulisan ini hadir, ambisi itu serupa benih mimpi yang bertunas kecil -lemah dan rapuh- tapi, panasnya sudah bisa aku rasakan, dalam kepala. 

Ia berdansa seperti setan-setan kecil yang menaburi titik hitam dalam hati. 

Aku melihat ke dalam dan ke luar, membandingkan batas waktu yang ada. Setiap milik seseorang berbeda. Dan kebetulan, milikku terlihat lebih panjang dan sedikit rumit. 

Perlahan, titik hitam itu bertumbuh. 

Segala penyakit hati; iri, dengki, marah, kesal membawa diri pada kebencian waktu. Milikku yang tidak sama seperti mereka, membuat diri ini bertanya dan selalu bertanya -bahkan dalam waktu- 

"Kapan aku akan menemui waktu yang sama seperti mereka?" 

Dan kembali menangis. 

Kertas-kertas bertuliskan mimpi sudah tertempel di dinding, dengan harapan satu-satu bisa kulepas dan disimpan selayaknya bintang terang di langit yang jatuh satu-satu saat tugas telah selesai. 

Namun, lagi-lagi tentang waktu. 

Kertas itu sudah mengering tintanya dan aku pun mulai bosan menatap lama pada dinding. Aku takut bintang-bintang itu akan redup, mati, dan menghilang begitu saja. Bukan jatuh sehingga bisa kusimpan. 

Dalam waktu, orang-orang berjalan, berlari, bahkan terbang.
Dalam waktu juga mereka menari kemudian melayang.
Sementara aku masih sibuk mencari dan demikian, kembali mengawang. 

Bosan dengan waktu, tak kan ada habisnya berkemul di dalamnya. Detik demi detik terlewati, dan satu per satu bintang berjatuhan. Kata orang tua, sekalipun tinta sudah mengering dan bintang-bintang yang digantungkan semakin meredup, tapi harap masih tetap harus terjaga. Karena katanya, hanya kekuatan harap yang bisa mengikis waktu -meski harap yang menjadi kuat juga membutuhkan waktu- tapi setidaknya, waktu yang panjang dan rumit akan diperpendek dan dipermudah. 

Namun, kata orang tua harap saja masih belum cukup. Mengikis waktu juga bisa dilakukan dengan ketekunan, kerja keras, dan ia haus akan keringat. Ini sudah menjadi rahasia umum. Aku pun sudah tau itu. 

Sayang, mental masih terlalu rapuh untuk mengikis waktu. Bukan, bukan.. 

Bukan waktu tak membutuhkan kekuatan mental, hanya saja diri ini yang masih terlalu takut untuk mengikisnya. Ibarat tersesat di ujung jalan yang panjang dan ujungnya tak terlihat, aku lebih memilih diam menunggu cahaya untuk melihat titik akhir daripada mencoba berjalan menuju titik akhir itu. 

Padahal aku tidak tau, kapan cahaya itu akan datang...



-di-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I STILL WANT YOU

Semoga Kita Berjodoh

Dep