Sebuah Pertanyaan
Hidup itu berat, ya?
Banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencanamu.
Banyak usahamu yang tidak memberikan hasil yang kau mau.
Banyak pengorbananmu yang tidak berujung baik.
Kau jadi terdiam dan bertanya-tanya,
"Apa yang salah?"
"Dimana letak salahnya?"
"Mengapa berakhir seperti ini?"
Kalimat itu terus terngiang di kepalamu, sembari kau mengingat kembali waktu sulit yang selalu kau lewati setiap malamnya.
"Apa aku kurang berusaha?"
"Apa doaku kurang keras?"
"Atau apakah waktu tidurku terlalu lama?"
Kau terus berenang-renang dalam pertanyaan itu, lalu tenggelam.
Dan akhirnya kau menemukan dirimu terdampar di dalam dasar yang tak bisa kau tapaki.
Kau melayang bersama kesedihanmu dan terombang-ambing dengan keraguan atas dirimu sendiri.
Kau menyesalinya.
Merasa semua usahamu menjadi sia-sia.
Keringat dan airmatamu yang mengering tak lagi berharga.
Doa panjangmu yang terlontar dari bibir yang terus berharap tak pernah didengar.
Kini, kau jadi merasa bersalah dan menjadi-jadi menyalahkan dirimu sendiri
"Aku tidak sehebat mereka"
"Aku tidak seberuntung mereka"
"Aku tidak sebaik mereka karenanya doaku tidak dikabulkan"
Kau menangis tersedu-sedu merasa dunia tidak adil.
Semua meninggalkanmu seorang diri dan tak ada yang datang membantu.
Waktu berjalan sangat cepat, seakan mencampakkanmu.
Kau mencari ke sekeliling, barangkali ada kenalanmu yang mengulurkan tangan.
Namun, nihil!
Kau hanya menemukan dirimu tersesat di tengah ruang hampa nan gelap.
Hidup itu berat, ya?
Kau menanggungnya seorang diri.
Saat semua berjalan tidak sesuai harapanmu, kau selalu berkata bahwa semua akan baik-baik saja.
Saat usahamu tidak membuahkan hasil yang kau mau, kau tetap tersenyum optimis dan yakin bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha.
Saat pengorbananmu tidak berujung baik, kau menepuk-nepuk pundakmu dan menghibur diri bahwa semua akan indah pada waktunya.
Tanpa sadar kau melukai dirimu sendiri di saat kau mencoba untuk tetap kuat.
Dan kau selalu merawat lukamu sembari mengatakan kalau itu adalah bagian dari perjuangan.
Kau berpura-pura baik-baik saja dan tetap tersenyum, bahkan meneriaki diri sendiri untuk terus semangat.
Hidup itu berat, ya?
Beristirahatlah saat kau lelah.
Menangis saja saat kau merasa terlalu sulit dan tersakiti.
Berteriak sekeras mungkin saat kau merasa tidak adil.
Tidak apa-apa mengeluh saat kau merasa sesak dan terbebani.
Di tengah kehidupan yang berat ini, kau tidak sendiri.
Jika gagal, bukan berarti kau kalah.
Jika kalah, bukan berarti kau payah.
Jika payah, bukan berarti kau tak berguna.
Aku tak ingin menyemangatimu terus melulu.
Aku ingin kau terus percaya pada semua rasa optimismu.
Aku ingin kau selalu merawat dan membawa lukamu.
Aku ingin kau selalu mengingat rasa sakit atas kepura-puraanmu.
Aku ingin kau melihat sendiri bagaimana waktu akan menjawab semua pertanyaanmu.
Hidup ini berat, ya?
Aku tak perlu lagi persetujuanmu untuk menjawabnya.
Jika begitu berat bagimu, kau bisa berhenti sekarang, dan aku juga akan berhenti menanyakannya padamu.
Namun...
Jika kau terus membawanya di pundakmu, sandiwaramu akan terus berlanjut, dan aku juga akan terus menanyaimu setiap waktu.
Sekali lagi, untuk terakhir, aku akan bertanya kepadamu dan barangkali kau akan memiliki jawaban yang berbeda untuk menjawabnya...
Hidup ini berat, ya?
-di-
Komentar
Posting Komentar