Bagaimana Manusia dan Aku Berubah


Manusia berubah dan aku pun berubah.

Seperti malam ini... aku rebah di atas kasurku, di bawah langit-langit kamar, aku menatap layar handphone. Aku kembali menemukan kehebatan sebuah tulisan. Hanya dari satu tulisanku satu tahun lalu, aku bisa mengenang perasaan yang kurasakan dulu dan menyadari betapa naifnya diri ini.

Entahlah, apakah aku menertawakan kekonyolan diriku di masa lalu yang naif atau meremehkan diriku saat ini yang menjadi pengecut... karena dasarnya begini; pada hakekatnya, dalam konteksnya, aku valid dinyatakan menyerah. Aku yang dulu—dengan keberanian dan mimpi yang dulu—sangat jauh berbeda dengan aku yang sekarang. 

Ternyata benar, manusia berubah.

Aku seperti menjadi dua orang yang berbeda. Aku merasa diriku di masa lalu lebih hebat ketimbang aku saat ini. Namun, lewat tulisannya, aku menyadari bahwa masa depan bagaimanapun harus lebih maju dari masa lalu. Ia secara langsung menyuruhku untuk kembali mencintai dan secara tulus menerima diriku sendiri apa adanya. Aku seperti membaca secarik surat teguran, namun terasa hangat.

Manusia berubah.

Aku di masa depan mungkin juga akan berbeda dengan aku di masa kini. Dan tulisan ini bisa saja akan menjadi bukti tidak langsung yang menunjukkan bahwa aku—manusia—berubah. 
Dunia terus berputar, waktu terus bergerak maju, kondisi terus berganti, perasaan dan emosi selalu beradaptasi, sifat dan sikap dipaksa ikut berevolusi. Begitulah bagaimana cara manusia dapat berubah.

Aku berubah. 

Pemikiran, sikap, mental, perkataan, dan bahkan niatku tak lagi sama. Manusia lupa atas apa yang pernah mereka niatkan dan katakan di waktu dulu, pun aku begitu. Jadi, aku mewajari kalau dikatakan menjilat air liur sendiri itu nikmat rasanya... karena bagaimanapun, meski tanpa manusia sadari, termasuk aku, mungkin pernah ingkar dengan kata-kata yang dilontarkan dahulu. 

Manusia itu lucu...
Aku pun lucu...
Hidup ini lebih lucu...

Karena waktu yang terus tergesa, semua berubah. Tak ada lagi yang bisa dipegang ketetapannya. Semuanya dinamis, tak pasti, abstrak, dan rentan pupus. Yang aku rasakan saat ini, saat menulis ini, mungkin tak akan sama saat aku membacanya nanti, karena lagi lagi begitulah aku—manusia—akan berubah.

Jika ditanyakan benda apa yang paling tidak absolut dan paling dinamis, maka akan kukatakan manusia. Mereka akan berubah wujud sikap, sifat, perkataan, niat, bahkan iman... tergantung pada bagaimana waktu, kondisi, dan cara kerja dunia membuat mereka berevolusi. 

Jadi, begitulah bagaimana manusia—juga aku—pasti akan berubah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I STILL WANT YOU

Semoga Kita Berjodoh

Dep